Senin, 22 Juli 2013

Cara budidaya kentang di dataran tinggi

Kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk tanaman berkeping dua (dikotil) dari keluargaSolanaceae. Tanaman ini merupakan tanaman semusim dan mempunyai kemampuan berkembang biak secara vegetatif melalui umbi. Budidaya kentang akan tumbuh subur pada daerah beriklim dingin, suhu udara yang tinggi menyebabkan tanaman tidak dapat membentuk umbi.
Ketinggian yang baik untuk budidaya kentang berada pada kisaran 1000-2000 meter dari permukaan laut dengan suhu 14-22 derajat celcius. Curah hujan yang baik selama periode pertumbuhan tanaman kentang adalah 1000-1500 mm. Apabila curah hujan terlalu tinggi bisa menyebabkan kebusukan pada umbi.

Budidaya kentang di Indonesia, pertamakali dilakukan pada abad ke-18 di Cibodas, Lembang, Pangalengan dan Tengger. Kemudian menyebar ke wilayah Sumatera tepatnya di dataran tinggi kerinci. Saat ini banyak tempat di Indonesia menjadi sentra budidaya kentang. Prospek usaha budidaya kentang sangat menjanjikan.

Pengolahan tanah

Pertama-tama hal yang harus perhatikan dalam budidaya kentang adalah keadaan tanah yang akan dipakai, apakah keadaan tanah gembur atau padat. Untuk tanah yang padat diperlukan pembajakan atau pencangkulan dengan kedalaman kurang lebih 30 cm. Setelah selesai dibajak tanah didiamkan selama 2-3 hari, kemudian digaru sedalam 5 cm, lalu diamkan selama satu minggu. Untuk kondisi tanah yang gembur, pengolahan cukup dengan digaru saja, lalu biarkan selama satu minggu. Waktu pembiaran sampai satu minggu bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah.
Perlu juga diperhatikan kondisi kelembaban tanah. Kentang merupakan tanaman yang sensitif, keadaan tanah tidak bisa terlalu basah atau terlalu kering. Banyak usaha budidaya kentang yang kandas karena tidak memperhatikan kelembaban tanah. Apabila kondisi tanah basah, siapkan sistem irgasi berupa garitan yang agak ditinggikan. Bila kondisi tanah kering lakukan penyiraman. Setelah lewat satu minggu tanah diratakan dan dibuat garitan. Lebar garitan umumnya 80 cm dengan ketinggian 5 cm.

Pemupukan tanaman kentang

Pada permukaan garitan tebarkan pupuk kandang, atau dapat juga dibuat lubang-lubang untuk menempatkan pupuk secara terpusat untuk menghindari tergerusnya pupuk. Pemberian pupuk kandang yang ideal untuk budidaya kentang adalah 20-50 ton per hektar, tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Selain pupuk kandang, tambahkan NPK sebanyak 350 kg per hektar. Cara pemberian NPK bisa disebar atau secara terpusat dengan membuat lubang-lubang dekat umbi yang ditanam pada garitan.

Penanaman bibit kentang

Sebelum siap ditanam, umbi bibit harus disimpan dulu selama kurang lebih tiga bulan. Fungsinya agar umbi tersebut ketahuan sudah bisa bertunas dengan baik, karena umbi kentang mempunyai masa dormasi. Umbi yang telah bertunas, lakukan seleksi pemangkasan tunas. Tunas yang panjangnya lebih dari 2 cm dibuang, karena tunas yang terlalu panjang kurang baik untuk ditumbuhkan. Berat umbi yang baik untuk bibit berkisar 30-50 gram per buah.
Letakan umbi yang telah dipangkas dalam garitan, diatas pupuk yang telah disebar atau didekat lubang-lubang yang telah dikasih pupuk. Jarak tanam dalam garitan berkisar 20-30 cm. Setelah umbi diletakan, timbun dengan tanah sehingga membentuk guludan setinggi 10-15 cm. Biarkan bagian kiri dan kanan guludan membentuk parit untuk drainase.

Pemeliharaan tanaman kentang

Tindakan pemeliharaan terdiri dari penyiraman, pengguludan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Periode pemeliharaan tanaman dalam budidaya kentang memerlukan tingkat kecermatan yang tinggi. Pemeliharaan tanaman kentang harus disiplin dan taat jadwal.

Penyiraman tanaman

Penyiraman dilakukan sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca. Di daerah lembab dan sering turun hujan, relatif tidak memerlukan penyiraman. Apabila keadaan tanah terlihat kering baru lakukan penyiraman, namun harus diperhatikan kondisi tanah jangan sampai terlalu basah, apalagi sampai tergenang.

Penyiangan gulma

Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan perbaikan guludan. Biasanya dilakukan setelah satu bulan penanaman. Gulma bisa dibersihakan dengan sabit atau koret, setelah gulma dibersihkan guludan diperbaiki. Penyiangan gulma berikutnya dilakukan setelah tanaman berumur dua bulan. Setelah itu, tidak diperlukan lagi penyiangan, karena tajuk tanaman sudah rimbun sehingga gulma sulit tumbuh.

Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya kentang. Produktifitas tanaman kentang sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tanaman. Penyemprotan fungisida maupun insektisida dimulai sejak tanaman berumur 10 hari. Interval penyemprotan dilakukan dua kali seminggu, atau tergantung dari gejala kerusakan yang terlihat.
Obat-obatan yang diberikan berupa fungisida (dithane dan vondozeb) dan insektisida (hostathion). Konsentrasi yang dianjurkan sesuai dengan petunjuk penggunaan pada label. Selain dengan penyemprotan, pengendalian hama dan penyakit bisa dilakukan juga dengan rotasi tanaman. Lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang-kacangan atau palawija. Waktu rotasi tanaman diperlukan sekurang-kurangnya 2-3 tahun, baru lahan bisa ditanamai tanaman kentang lagi.
Jenis-jenis hama dan penyakit yang biasa ditemukan dalam budidaya kentang di Indonesia antara lain:
  • Busuk daun (Phytophthora infestans)
  • Penyakit layu bakteri (Pseudomonas Solanacearum)
  • Bercak lunak (Altenaria Solani)
  • Penyakit layu fusarium (Fusarium Oxysporum)
  • Virus gulung daun (PLRV)
  • Root knot nematodes (Meloidogyne Spp.)
  • Ulat gulung (Phthorimae Operculella)
  • Pekung (Rhizoctonia Solani)
  • Virus (Virus X, Virus Y, Virus S)
  • Oteng-oteng (Epilachna Puntata)
  • Ulat tanah (Agrotis Ipsilon)
  • Kutu daun hijau (Myzus Persicae dan Aphis Nasturtii)
  • Orong-orong (Cryllotalpa Sp.)

Pemanenan budidaya kentang

Umur tanaman kentang sampai siap panen bergantung pada jenis varietas, tinggi lahan dan musim. Secara umum satu siklus budidaya kentang sampai umbi siap dipanen antara 80-120 hari. Pemanenan harus diperhatikan, jangan terlalu dini atau terlalu tua. Panen yang terlalu dini, membuat kualitas kentang rendah karena pembentukan karbohidrat dlam umbi masih belum optimum. Sedangkan pemanenan yang terlalu tua meningkatkan resiko umbi kentang terserang penyakit dan rusak.
Untuk mengecek kesiapan panen, umbi kentang digali secara acak. Pengambilan sampel harus dilakukan secara merata sehingga mewakili lokasi tanam. Umbi yang sudah diambil dilihat tingkat kematangannya. Atau, bila kita sudah terampil bisa dengan cara  memperhatikan bentuk dan warna daun. Tanaman yang siap panen, warna hijau daunnya mulai pudar dan terlihat kering.
Pemanenan bisa dilakukan dengan garpu, dalam hal ini harus diperhatikan benar jangan sampai garpu melukai bagian umbi. Apabila takut umbi rusak terkena sosokan garpu, pemanenan bisa dilakukan dengan kored, atau cangkul tangan. Dengan alat ini resiko kerusakan lebih kecil, namun proses panen lebih lama. Setelah umbi digali, biarkan beberapa saat atau jemur untuk beberapa saat. Sehingga lapisan tanah yang menyelimuti umbi mudah dibersihkan. Lalu kemas umbi kentang kedalam karung atau keranjang.

Sumber : http://www.alamtani.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar